Pemasaran ala The Joneses (Perfect Family Influence )

Pemasaran ala The Joneses (Perfect Family Influence )

Seorang pemasar diluar negri menggunakan cara Perfect Family Influence dalam menjalankan pemasarannya. Ia menyewa beberapa orang yang ditugaskan untuk berperan sebagai sebuah keluarga, mulai dari Bapak, Ibu dan dua anak laki-laki dan perempuan. Pekerjaan mereka hanya sekedar menjalankan hidup normal layaknya sebuah keluarga yang utuh dan harmonis, namun di tengah tugas yang simple itu, mereka ditantang untuk menjualkan dengan cara halus beberapa produk milik sang pemasar/pedagang. Mula-mulanya mereka memamerkan secara halus kepada tetangga mereka yang baru, mulai dari alat rumah tangga, pakaian keluarga, makanan ringan, hingga mobil. Dengan keadaan keluarga yang sangat harmonis dan luar biasa itu.

Para ibu rumah tangga, dan suami mereka, berikutnya anak-anak tetangga mereka juga memiliki insting untuk membeli produk yang dimiliki keluarga harmonis ini. Apabila pameran secara halus ini sudah meluas dan membuahkan hasil, penjualan yang meledak, produk banyak dipesan, dan konsumen loyal terhadap produk, maka Keluarga harmonis yang palsu ini akan pindah ke tempat lain dengan formasi keluarga yang berbeda dari sebelumnya.

Cara pemasaran ini diperkenalkan ke masyarakat dan dibuka blak-blakan di film The Joneses. Keluarga palsu dengan fungsi sama yang saya jelaskan di atas. Bekerja dengan maximal dan loyal.. tapi… di akhir cerita, ada tetangganya yang ingin mencontoh setiap prilaku, membeli setiap barang yang dibeli keluarga palsu itu, padahal keuangannya sedang ada masalah dan hanya istrinya yang bekerja, karena tidak ingin kalah saingan dengan tetangganya itu, ia membeli semua barang dengan kredit card.
Diceritakan suatu malam suami istri yang tidak mau kalah pamor itu menerima surat tagihan kartu kredit mereka yang melampaui batas pembayaran normal. Sang suami stress karena tidak bisa melunasi tunggakan keluarganya, akhirnya dia memutuskan untuk bunuh diri dengan menyelam di kolam renang. Melihat peristiwa itu keluarga palsu Joneses merasa sangat bersalah dan sang kepala rumah tangga akhirnya dengan berat hati mengaku bahwa keluarga harmonisnya itu adalah keluarga palsu yang dibentuk sebuah pemasar untuk memasarkan product secara halus kepada konsumen disekitarnya. Dengan sangat marah sang istri almarhum melaporkan keluarga ini ke polisi. Tapi yang namanya film hal itu tidak terjadi. Keluar dari film, mari kita membahas mengenai metode pemasaran ini.

Metode pemasaran ini sudah banyak dilakukan di negara paman sam, dan di Negara-negara maju lainnya. Di Indonesia pemasaran seperti ini sedikit diambil intinya saja oleh beberapa pemasar alat kebutuhan rumah tangga. Pembaca pasti sudah mengenalnya kan… nah saya juga sempat tertarik melakukan metode pemasaran seperti ini untuk produk saya. Tapi… sekali lagi ada tapi… metode ini juga memiliki dampak yang memungkinkan target pasar menjadi sangat konsumtif dan boros.

Sebagai pemasar dan pembisnis yang baik, kita seharusnya memperhatikan target pasar kita. Apakah mereka mampu menuruti semua prilaku pembelian keluarga palsu yang kita bentuk, bagaimana keadaan ekonomi mereka, dan kita harus melihat dampak emosi pada diri target pasar kita. Jangan terlalu membombardir dalam sebuah pemasaran, tidak mempedulikan pasar dan ingin untung yang banyak.
Pemasaran yang menurut saya lebih nyaman adalah, kita membuka sebuah media layanan, entah itu online atau offline, kita pajang semua produk yang kita miliki, kita membuka sebuah jaringan yang tidak ada batasnya, namun kita membatasinya sendiri. Kita tawarkan kepada mereka produk kita, lalu kita tunggu reaksinya. Apakah ada permintaan, atau pertanyaan mengenai ketertarikan mereka akan produk kita?. Kalau ada permintaan kita layani dengan sebaik-baiknya, dan berikan berbagai layanan positif yang membuat mereka loyal pada kita dan percaya pada kita. Lalu berikan layanan purna jual yang terbaik bagi mereka.

Tak perlu keluarga palsu, tak perlu kebohongan, tak perlu menyakiti orang. Kita sudah bisa menjadi pemasar yang baik. Semoga kita bisa selalu belajar-belajar dan terus belajar untuk memperbaiki layanan kita kepada para target pasar begitu juga pelanggan loyal kita. Dan jangan lupa semakin banyak hal-hal positif yang kita berikan kepada konsumen kita. Semakin berhasil kita dalam sebuah usaha.

Rangkuman Ayuna Kusuma
Sabtu, 20 Februari 2016 0 komentar


YANG TERKAIT

Kelompok Usaha Bersama -Gresik | # - # | KUB : Kelompok Usaha Bersama - Berbagi peluang usaha dan info pekerjaan - Belajar bisnis bersama - Berbagi solusi permasalahan usaha

Didukung oleh : Afandi, Blogger, Tenda OK, BuAYU, GMP, Carteran, FamaGrosir, Mode Ok-Rek, OmaSae, BerKADO, - -Suara Gresik- -